Tampilkan postingan dengan label tepat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tepat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Mei 2012

Tips Tepat Memilih Sepatu Bayi


Jangan asal beli sepatu bayi. Pilih yang benar-benar tepat, karena sepatu turut menentukan perkembangan kaki bayi. Jangan mudah tergoda dengan beragam sepatu bayi yang lucu bentuk dan modelnya. Sesuaikan fungsinya dengan kebutuhan bayi.

Sepatu punya manfaat. Sepatu bukan hanya sekadar alas kaki bagi bayi. Ada sederet manfaat bagi bayi yang mungkin selama ini kurang kita pikirkan. Apa saja sih manfaat dari sepatu?
  • Melindungi kaki bayi dari benda-benda tajam.
  • Menyangga berat tubuh, sehingga titik berat bertumpu pada posisi yang benar. Posisi ini akan akan membentuk gaya berjalan yang benar.
  • Membantu mengoreksi atau memperbaiki beberapa jenis kesalahan (kelainan) pada proses tumbuh-kembang kaki bayi.
  • Membantu membentuk struktur kaki bayi yang benar dan normal.
  • Membantu dan menunjang proses belajar berjalan bayi, sesuai tahapan tumbuh kembangannya.
  • Menjaga pertumbuhan bayi serta mengarahkan rotasi tulang tungkai ke arah yang benar. Karena itu, sebaiknya bayi mulai pakai sepatu yang ergonomis sejak usia 1,5 – 7 tahun.
Macam-macam jenisnya. Jangan salah pilih, Bunda. Sepatu untuk bayi memiliki beberapa jenis sesuai dengan fungsinya. Seperti misalnya:
  • Untuk bayi belajar merangkak. Gunakan sepatu berpunggung yang tebal dan tidak bertali, agar dapat melindungi punggung kaki bayi yang menyentuh lantai.
  • Untuk bayi belajar merambat. Gunakan sepatu dengan bagian pinggir sebelah luar yang kokoh untuk melindungi bagian pinggir kaki bayi.
  • Untuk bayi belajar berjalan. Gunakan sepatu bertumit kuat dan kokoh sehingga dapat "menggenggam” tumit kaki bayi dengan baik saat melangkahkan kakinya.
Tip & Trik Pilih Sepatu. Mau berbelanja sepatu untuk bayi? Sebaiknya Anda mencari sepatu yang memiliki kriteria seperti ini:
  • Bentuknya kuat dan kokoh sehingga mampu menunjang kaki bayi dengan baik. Tidak terlalu longgar dan juga tidak terlalu sempit, bersifat ergonomis seperti “memeluk” kaki bayi sehingga nyaman dipakai.
  • Pilihlah sepatu dengan model tertutup dan dapat membentuk kaki bayi yang normal.
  • Terbuat dari bahan yang lentur atau fleksibel sehingga dapat berubah mengikuti gerakan kaki bayi. Begitu juga dengan bagian dalam sepatu, pilih yang terbuat dari bahan yang lembut sehingga kulit kaki bayi tidak mengalami iritasi.
  • Terbuat dari bahan yang lembut dan memungkinkan kulit bayi bernapas, misalnya dari kain yang menyerap keringat.
  • Ada ruang tersisa pada ujung kaki bayi, maksimal 1,5 cm.
  • Pilih yang memiliki bantalan medial arkus (bagian tengah pada sisi sebelah dalam yang sedikit menonjol), sehingga tidak membuat bayi cepat lelah.
  • Ujung sepatu berbentuk membulat atau lonjong, dan tidak runcing.
  • Sol sepatu luar (outsole) cukup lebar dan kuat untuk menopang kaki bayi, tapi juga tidak terlalu tinggi.
  • Bagian atas sol kuat “memeluk” tumit bayi. Jadi, pilih yang tidak terbuat dari kain melainkan dari kulit atau kulit imitasi. Ketinggiannya pun sebaiknya sampai menutupi tumit.
  • Pilih yang modelnya tidak menghalangi pergelangan kaki sehingga kaki bayi dapat bebas bergerak dan lutut tidak menanggung beban pada saat kaki bergerak.
Sebaiknya ganti sepatu bayi dengan yang baru setiap 2-3 bulan, sesuai tahapan perkembangan jalan yang sudah dicapainya. Dengan demikian perkembangan kaki dan kemampuan berjalan bayi akan lebih maksimal.

http://www.ayahbunda.co.id

Rabu, 16 November 2011

GIZI TEPAT IBU HAMIL


* Kalori
Selama hamil, ibu membutuhkan tambahan energi/kalori untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, juga plasenta, jaringan payudara, cadangan lemak, serta untuk perubahan metabolisme yang terjadi. Di trimester II dan III, kebutuhan kalori tambahan ini berkisar 300 kalori per hari dibanding saat tidak hamil. Berdasarkan perhitungan, pada akhir kehamilan dibutuhkan sekitar 80.000 kalori lebih banyak dari kebutuhan kalori sebelum hamil.
* Lemak
Pertumbuhan dan perkembangan janin selama dalam kandungan membutuhkan lemak sebagai sumber kalori utama. Lemak merupakan sumber tenaga yang vital dan untuk pertumbuhan jaringan plasenta. Pada kehamilan yang normal, kadar lemak dalam aliran darah akan meningkat pada akhir trimester III. Tubuh wanita hamil juga menyimpan lemak yang akan mendukung persiapannya untuk menyusui setelah bayi lahir.
* Protein
Kebutuhan protein bagi wanita hamil adalah sekitar 60 gram. Artinya, wanita hamil butuh protein 10-15 gram lebih tinggi dari kebutuhan wanita yang tidak hamil. Protein tersebut dibutuhkan untuk membentuk jaringan baru, maupun plasenta dan janin. Protein juga dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan diferensiasi sel.
* Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber utama untuk tambahan kalori yang dibutuhkan selama kehamilan. Pertumbuhan dan perkembangan janin selama dalam kandungan membutuhkan karbohidrat sebagai sumber kalori utama. Pilihan yang dianjurkan adalah karbohidrat kompleks seperti roti, serealia, nasi dan pasta. Selain mengandung vitamin dan mineral, karbohidrat kompleks juga meningkatkan asupan serat yang dianjurkan selama hamil untuk mencegah terjadinya konstipasi atau sulit buang air besar dan wasir.
* Vitamin dan mineral
Wanita hamil juga membutuhkan lebih banyak vitamin dan mineral dibanding sebelum hamil. Ini perlu untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin serta proses diferensiasi sel. Tak cuma itu. Tambahan zat gizi lain yang penting juga dibutuhkan untuk membantu proses metabolisme energi seperti vitamin B1, vitamin B2, niasin, dan asam pantotenat. Vitamin B6 dan B12 diperlukan untuk membentuk DNA dan sel-sel darah merah, sedangkan Vitamin B6 juga berperan penting dalam metabolisme asam amino.
Kebutuhan vitamin A dan C juga meningkat selama hamil. Begitu juga kebutuhan mineral, terutama magnesium dan zat besi. Magnesium dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dari jaringan lunak. Sedangkan zat besi dibutuhkan untuk membentuk sel darah merah dan sangat penting untuk pertumbuhan dan metabolisme energi, disamping untuk meminimalkan peluang terjadinya anemia. Kebutuhan zat besi menjadi dua kali lipat dibandingkan sebelum hamil.
DAMPAK KURANG GIZI
Kekurangan asupan gizi pada trimester I dikaitkan dengan tingginya kejadian bayi lahir prematur, kematian janin, dan kelainan pada sistem saraf pusat bayi. Sedangkan kekurangan energi terjadi pada trimester II
dan III dapat menghambat pertumbuhan janin atau tak berkembang sesuai usia kehamilannya. Contoh konkretnya adalah kekurangan zat besi yang terbilang paling sering dialami saat hamil. Gangguan ini membuat ibu mengalami anemia alias kekurangan sel darah merah. Kekurangan asam folat juga dapat menyebabkan anemia, selain kelainan bawaan pada bayi, dan keguguran.
Padahal, tak sulit memperoleh tambahan zat besi dan asam folat ini. Selain dari suplemen, juga dari bahan makanan yang disantapnya. Namun ibu hamil tak dianjurkan mengonsumsi suplemen multivitamin karena kelebihan vitamin A dan D dosis tinggi dalam tubuh justru dapat menimbulkan penumpukan yang berefek negatif. Suplemen dalam bentuk jejamuan juga tidak dianjurkan jika kebersihan dan keamanan bahannya tidak terjamin.
ANJURAN KHUSUS
Ibu hamil sebaiknya mengonsumsi sedikitnya dua gelas susu sehari atau kalau tidak, santaplah hasil produksi ternak lainnya. Ingat, keanekaragaman bahan makanan merupakan kunci dari menu makanan bergizi seimbang. Kebutuhan kalori mudah didapat dari tambahan porsi biji-bijian, sayuran, buah dan susu rendah lemak. Jika ibu baru mengonsumsi menu bergizi setelah beberapa minggu kehamilan, diharapkan keterlambatannya tidak melampui masa trimester II yang merupakan masa pertumbuhan janin terbesar.
Bagi ibu hamil sebenarnya tidak ada makanan yang benar-benar harus dihindari, kecuali alkohol. Namun bila ibu mengalami keluhan mual-muntah, maka ia tidak dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang dapat merangsang keluhan mual-muntahnya. Contohnya adalah durian. Jika tidak ada keluhan, buah ini boleh dikonsumsi selama hamil asalkan jumlahnya wajar, yaitu sekitar 35 gram dalam sehari.
Olahan apa pun seperti makanan yang dibakar boleh saja disantap asalkan benar-benar matang dan tidak dikonsumsi bagian gosongnya. Selanjutnya, apabila ibu hamil telah mengonsumsi menu makanan sesuai anjuran, maka camilan tanpa kalori boleh-boleh saja dikonsumsi seperti agar-agar, gelatin dan sejenisnya.
Selain alkohol, kopi juga tidak dianjurkan diminum selama hamil karena kurang mengandung zat gizi dan kemungkinan memberikan efek negatif walau hal ini masih diperdebatkan. Merokok aktif maupun pasif juga harus dihentikan karena berkaitan dengan tingginya risiko keguguran, bayi lahir meninggal, lahir prematur, ataupun lahir dengan berat badan rendah (kurang dari 2.500 gram).
PANTAU KENAIKAN BERAT BADAN
Pada trimester I biasanya ibu hamil akan mengalami penyesuaian terhadap perubahan fungsional dalam tubuhnya akibat proses kehamilan. Di antaranya keluhan mual-muntah dan rasa tidak nyaman lainnya. Dengan demikian, asupan makanan selama trimester ini belum dapat menaikkan BB ibu hamil. Normalnya, pada trimester I berat badan diharapkan naik kurang dari 2 kilogram. Sedangkan pada trimester II dan III sebaiknya kenaikan BB kurang dari 1/2 kg setiap minggunya.
Ibu hamil yang tergolong kurus sebelum hamil, diharapkan bisa mencapai kenaikan BB sebanyak 12,5­18 kg pada akhir kehamilan. Sedangkan untuk mereka yang tidak kurus dan tidak gemuk alias memiliki berat badan ideal diharapkan mencapai kenaikan BB sebesar 11,5­16 kg di akhir kehamilannya. Sedangkan mereka yang kelebihan BB saat sebelum hamil diharapkan kenaikan BB-nya hanya 7­11,5 kg pada akhir kehamilannya. Sementara wanita hamil yang kegemukan sebelum hamil, kenaikan BB dianjurkan sebatas 6 kg atau lebih sedikit pada akhir kehamilannya. Agar kenaikan berat badan terjaga, tentu saja ibu perlu secara berkala dan rutin menimbang badan bersamaan dengan pemeriksaan kehamilan.